Selamat Datang

zwani.com myspace graphic comments

Jumat, 23 Oktober 2009

Shalahuddin Al-Ayyubi


Lukisan artistik Shalahuddin
Memerintah 1174 M. – 4 Maret-1193 M.
Dinobatkan 1174 M.
Nama lengkap Salah al-Din Yusuf Ibn Ayyub
Lahir 1138 M. di Tikrit, Iraq
Meninggal 4 Maret-1193 M. di Damaskus, Syria
Dimakamkan Masjid Umayyah, Damaskus, Syria
Pendahulu Nuruddin Zengi
Pengganti Al-Aziz
Dinasti Ayyubiyyah
Ayah Najmuddin Ayyub


Salahuddin Ayyubi atau Saladin atau Salah ad-Din (Bahasa Arab: صلاح الدين الأيوبي, Kurdi: صلاح الدین ایوبی) (Sho-lah-huud-din al-ay-yu-bi) (c. 1138 - 4 Maret 1193) adalah seorang jendral dan pejuang muslim Kurdi dari Tikrit (daerah utara Irak saat ini). Ia mendirikan Dinasti Ayyubiyah di Mesir, Suriah, sebagian Yaman, Irak, Mekkah Hejaz dan Diyar Bakr. Salahuddin terkenal di dunia Muslim dan Kristen karena kepemimpinan, kekuatan militer, dan sifatnya yang ksatria dan pengampun pada saat ia berperang melawan tentara salib. Sultan Salahuddin Al Ayyubi juga adalah seorang ulama. Ia memberikan catatan kaki dan berbagai macam penjelasan dalam kitab hadits Abu Dawud


Latar belakang

Shalahuddin Al-Ayyubi berasal dari bangsa Kurdi[1] . Ayahnya Najmuddin Ayyub dan pamannya Asaduddin Syirkuh hijrah (migrasi) meninggalkan kampung halamannya dekat Danau Fan dan pindah ke daerah Tikrit (Irak). Shalahuddin lahir di benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1137 M, ketika ayahnya menjadi penguasa Seljuk di Tikrit. Saat itu, baik ayah maupun pamannya mengabdi kepada Imaduddin Zanky, gubernur Seljuk untuk kota Mousul, Irak. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Balbek, Lebanon tahun 534 H/1139 M, Najmuddin Ayyub (ayah Shalahuddin) diangkat menjadi gubernur Balbek dan menjadi pembantu dekat Raja Suriah Nuruddin Mahmud. Selama di Balbek inilah, Shalahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik perang, strategi, maupun politik. Setelah itu, Shalahuddin melanjutkan pendidikannya di Damaskus untuk mempelajari teologi Sunni selama sepuluh tahun, dalam lingkungan istana Nuruddin. Pada tahun 1169, Shalahudin diangkat menjadi seorang wazir (konselor).

Di sana, dia mewarisi peranan sulit mempertahankan Mesir melawan penyerbuan dari Kerajaan Latin Jerusalem di bawah pimpinan Amalrik I. Posisi ia awalnya menegangkan. Tidak ada seorangpun menyangka dia bisa bertahan lama di Mesir yang pada saat itu banyak mengalami perubahan pemerintahan di beberapa tahun belakangan oleh karena silsilah panjang anak khalifah mendapat perlawanan dari wazirnya. Sebagai pemimpin dari prajurit asing Syria, dia juga tidak memiliki kontrol dari Prajurit Shiah Mesir, yang dipimpin oleh seseorang yang tidak diketahui atau seorang Khalifah yang lemah bernama Al-Adid. Ketika sang Khalifah meninggal bulan September 1171, Saladin mendapat pengumuman Imam dengan nama Al-Mustadi, kaum Sunni, dan yang paling penting, Abbasid Khalifah di Baghdad, ketika upacara sebelum Shalat Jumat, dan kekuatan kewenangan dengan mudah memecat garis keturunan lama. Sekarang Saladin menguasai Mesir, tapi secara resmi bertindak sebagai wakil dari Nuruddin, yang sesuai dengan adat kebiasaan mengenal Khalifah dari Abbasid. Saladin merevitalisasi perekonomian Mesir, mengorganisir ulang kekuatan militer, dan mengikuti nasihat ayahnya, menghindari konflik apapun dengan Nuruddin, tuannya yang resmi, sesudah dia menjadi pemimpin asli Mesir. Dia menunggu sampai kematian Nuruddin sebelum memulai beberapa tindakan militer yang serius: Pertama melawan wilayah Muslim yang lebih kecil, lalu mengarahkan mereka melawan para prajurit salib.

Timur Tengah (1190 M.). Wilayah kekuasaan Shalahuddin (warna merah); Wilayah yang direbut kembali dari pasukan salib 1187-1189 (warna pink). Warna hijau terang menandakan wilayah pasukan salib yang masih bertahan sampai meninggalnya Shalahuddin

Dengan kematian Nuruddin (1174) dia menerima gelar Sultan di Mesir. Disana dia memproklamasikan kemerdekaan dari kaum Seljuk, dan dia terbukti sebagai penemu dari dinasti Ayyubid dan mengembalikan ajaran Sunni ke Mesir. Dia memperlebar wilayah dia ke sebelah barat di maghreb, dan ketika paman dia pergi ke Nil untuk mendamaikan beberapa pemberontakan dari bekas pendukung Fatimid, dia lalu melanjutkan ke Laut Merah untuk menaklukan Yaman. Dia juga disebut Waliullah yang artinya teman Allah bagi kaum muslim Sunni.

Aun 559-564 H/ 1164-1168 M. Sejak itu Asaduddin, pamannya diangkat menjadi Perdana Menteri Khilafah Fathimiyah. Setelah pamnnya meninggal, jabatan Perdana Menteri dipercayakan Khalifah kepada Shalahuddin Al-Ayyubi.

Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil mematahkan serangan Tentara Salib dan pasukan Romawi Bizantium yang melancarkan Perang Salib kedua terhadap Mesir. Sultan Nuruddin memerintahkan Shalahuddin mengambil kekuasaan dari tangan Khilafah Fathimiyah dan mengembalikan kepada Khilafah Abbasiyah di Baghdad mulai tahun 567 H/1171 M (September). Setelah Khalifah Al-'Adid, khalifah Fathimiyah terakhir meninggal maka kekuasaan sepenuhnya di tangan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Sultan Nuruddin meninggal tahun 659 H/1174 M, Damaskus diserahkan kepada puteranya yang masih kecil Sultan Salih Ismail didampingi seorang wali. Dibawah seorang wali terjadi perebutan kekuasaan diantara putera-putera Nuruddin dan wilayah kekuasaan Nurruddin menjadi terpecah-pecah. Shalahuddin Al-Ayyubi pergi ke Damaskus untuk membereskan keadaan, tetapi ia mendapat perlawanan dari pengikut Nuruddin yang tidak menginginkan persatuan. Akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi melawannya dan menyatakan diri sebagai raja untuk wilayah Mesir dan Syam pada tahun 571 H/1176 M dan berhasil memperluas wilayahnya hingga Mousul, Irak bagian utara.

Naik ke kekuasaan

Di kemudian hari Saladin menjadi wazir pada 1169, dan menerima tugas sulit mempertahankan Mesir dari serangan Raja Latin Yerusalem, khususnya Amalric I. Kedudukannya cukup sulit pada awalnya, sedikit orang yang beranggapan ia akan berada cukup lama di Mesir mengingat sebelumnya telah banyak terjadi pergantian pergantian kekuasaan dalam beberapa tahun terakhir disebabkan bentrok yang terjadi antar anak-anak Kalifah untuk posisi wazir. Sebagai pemimpin dari pasukan asing Suriah, dia juga tidak memiliki kekuasaan atas pasukan Syi'ah Mesir yang masih berada di bawah Khalifah yang lemah, Al-Adid.


Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Salahuddin_Ayyubi

Sholahuddin al-Ayyubi: Pemimpin Perang Cerdas Nurani

Sholahuddin Al-Ayyubi, salah satu pemimpin besar sepanjang masa. Filem Kingdom of Heaven karya Sir Ridley Scott merakam kecerdasan nurani panglima tertinggi Islam saat itu, Sholahuddin al-Ayyubi. Bahkan Barat pun menghargainya. Di tenda besar berwarna putih itu, di tengah-tengah Perang Salib yang menghabiskan banyak korban, waktu, dan biaya itu, terdengar dialog bernas antara Saladin dan tangan kanannya.

“Kita harus serang mereka sekarang,” usul sang tangan kanan Saladin.

“Tidak, kita buat perencanaan yang matang dulu,” sanggah Saladin.

“Kita akan menang, kerana ini sudah kehendak Allah,” teriak

“Kita akan menang kerana perencanaan yang matang,” ujar Saladin, sang pemimpin tertinggi pasukan Muslim.”…dan tentu saja kerana kehendak Allah,” segera sang pemimpin itu menambahkan.

Diskusi itu ditutup dengan kalimat Saladin: ”Di setiap pertempuran, aku selalu menang, tentu saja dengan kehendak Allah, kerana matangnya perencanaan perang,” tegasnya.

Dialog di atas mengandung banyak hikmah. Tentang betapa terencananya Saladin, atau yang kita kenal dengan nama Shalahuddin al-Ayyubi. Dan betapa Sholahuddin juga mendengarkan pernyataan anak buahnya. Juga percakapan filosofis tentang takdir dan peranan usaha manusia (ikhtiar). Dialog itu terakam lewat filem Kingdom of Heaven garapan Sir Ridley Scott yang pernah meraih Anugerah Oscar lewat Gladiator.

Sholahuddin di filem garapan Barat itu diperlihatkan sebagai sosok yang agung dan spiritual. Tengok saja adegan penghujung saat dirinya bernegosiasi dengan Balian dari Ibelin, panglima dari kaum Nashrani yang ketakutan dengan kemenangan Islam di Jerusalam kerana akan membalas membantai kaum Nasrani, sebagaimana mereka memperlakukan Muslim seratus tahun sebelumnya. Saladin hanya tersenyum dan menjawab: ”Aku Saladin, bukan mereka. Pergilah ke negeri-negeri Kristian, bawa pasukan dan rakyatmu yang memang ingin pergi. Tak ada pembunuhan,” katanya.

Sholahuddin Yusuf ibn Ayyub memang dikenal dengan toleransi yang tinggi dan penuh dengan rasa peri-kemanusiaan. Dalam setiap pertempuran, pesannya selalu sama: “minimalkan pertumpahan darah, jangan melukai wanita dan anak-anak”. Dia disegani lawan-lawannya, sehingga dalam Perang Salib III, ada istilah ‘Saladin Tithe’ (“Zakat” melawan Saladin). Tapi namanya harum di medan perang yang panjang itu, dan diakui kawan dan lawan. Bersama dengan Raja Baldwin IV, dia menginginkan sebuah kota Yerusalam yang damai bagi ketiga agama besar, sebuah Kingdom of Conscience , Kingdom of Heaven (kerajaan nurani, kerajaan syurga).

Sebenarnya, bisa saja keturunan Kurdis (bukan-Arab) ini menyerang Jerusalem, kerana “..200 ribu pasukannya sudah siap tempur…” jelas Tiberias kepada Raja Baldwin. Tapi sang panglima itu tidak melakukannya, kerana sudah berkomitmen untuk tidak menyerang Jerusalem asalkan umat Muslim tidak diganggu. Tapi, seperti terlihat dalam filem itu, perjanjian dilanggar oleh raja baru Guy de Lusignan yang memerintahkan Raynald of Chatillon membunuh sekelompok kafilah Muslim yang sedang berdagang dan akan berhaji di Laut Merah, juga saudari Sholahuddin. Dan perang pun pecah. Pada Julai 1187, Saladin menyerang Kerajaan Jerusalem dan terlibat dalam pertempuran Hattin dan berhasil mengeksekusi Raynald dan rajanya, Guy of Lusignan. Dia kembali ke Jerusalem 2 Oktober 1187, 88 tahun setelah kaum Salib berkuasa.

“Persahabatan”nya dengan musuh terbesarnya, Raja Richard I dari Inggeris—Raja Inggeris yang mengobarkan Perang Salib III yang dijuluki The Lion Heart–juga legendaris. Kepada Richard—satu-satunya raja yang pernah memukul mundur pasukan Muslim– Sholahuddin mengirimkan tabib terbaiknya—dan saat itu memang dunia Islam memimpin dunia sains dan teknologi termasuk kedoktoran. Saat Richard kehilangan kuda tunggangannya, ia memberikan dua ekor penggantinya. Bahkan, dalam satu pertempuran, saat berhadap-hadapan dengan Richard dari Inggris pada Perang Arsuf tahun 1191, di luar perkiraan kedua pasukan, Saladin dan Richard saling berjabat tangan dan menghormat satu sama lain.

Di medan itu, keduanya sepakat berdamai. Di tahun 1192 keduanya untuk membahagi wilayah pesisir untuk Kaum Kristian dan Jerusalem untuk Kaum Muslim. Perjanjian Ramla itu menyatakan bahawa Jerusalem tetap dikuasai Muslim dan terbuka kepada para peziarah Kristian. Bahkan, adik Richard dinikahkan dengan saudara Saladin.

Sholahuddin pula yang menghidupkan semangat jihad merebut kota Jerusalem dengan inovasinya yang unik. Dia mengadakan acara menulis riwayat hidup Nabi Muhammad SAW dalam rangka memperingati maulud nabi. Dan, lahirlah syair Barzanzi yang masih hidup hingga saat ini.

Budi baiknya dikenal tidak di kalangan muslim, tetapi juga lawan-lawannya. Tawanan diperlakukan secara terhormat dan manusiawi, tidak membuat mereka haus dan lapar. Pernah, saat berperang, Sholahuddin menangkap pasukan Salib yang berjumlah sangat besar sedangkan makanan yang tersedia tidak cukup buat mereka. Dengan lapang dada, akhirnya Sholahuddin membebaskan mereka tanpa syarat.

Kelahiran Tikrit (Irak) pada 532 Hijriah (1138 Masehi) di di kota Tikrit (140km barat laut kota Baghdad ) dekat sungai Tigrisini begitu cerdas nurani dan emosinya. Mungkin kerana dia menghayati ilmu-ilmu yang didapatnya dari guru-gurunya—seperti ayahnya Najamuddin al-Ayyubi, Nuruddin Zangi dan pamannya Asaddin Shirkuh yang pejabat Dinasti Seljuk dan dekat dengan raja Suriah, Nuruddin Mahmud —di antaranya menguasai ilmu kalam, fikih, ilmu-ilmu al-Qur’an, dan juga hadits, di samping ketenteraan. Bahkan, ia memberikan catatan kaki (syarah) dan berbagai macam penjelasan dalam kitab hadits Abu Dawud.

Berbeza dengan sultan kebanyakan, dia tidak membuat istana megah untuk dirinya. Tetapi, justeru masjid, hospital, dan universiti yang dibangunnya untuk publik, di Kaherah, Mesir.

Setahun setelah Perjanjian Ramla, setelah pulangnya Richard ke Inggeris, tepatnya 4 Mac 1193, Sholahuddin meninggal di Damsyik tidak lama setelah jatuh sakit. Ketika rakyat membuka peti hartanya ternyata hartanya tak cukup untuk biaya pemakamannya, Utusan yang menyampaikan berita kematiannnya itu ke Baghdad membawa serta baju perangnya, kudanya, wang sebanyak satu dinar dan 36 dirham miliknya. Rupanya hartanya lebih banyak mengalir kepada golongan fakir miskin.

Saladin, begitu lidah Barat menyebutnya, sudah wafat. Tapi perilaku dan kecerdasan nuraninya akan terus dikenang, bahkan oleh Barat. Kisah perang dan kepemimpinannya banyak ditulis dalam karya puisi dan sastera Eropah, salah satunya adalah The Talisman (1825) karya Walter Scott. “Di Eropah” tulis Philip K Hitti, dia telah menyentuh alam khayalan para penyanyi mahupun para penulis novel zaman sekarang, dan masih tetap dinilai sebagai suri teladan kaum kesatria,”

Kini makamnya menjadi salah satu destinasi kunjungan popular di Syria.

Sumber : http://ummahonline.wordpress.com/2007/03/19/sholahuddin-al-ayyubi-pemimpin-perang-cerdas-nurani


1 komentar: